bogortrqffic.com, BOGOR — Menyambut Hari Raya Idul Adha, masyarakat Indonesia bersiap menikmati aneka hidangan khas dari olahan daging kurban, seperti gulai, rendang, hingga sate.
Namun di tengah pesta kuliner yang menggoda ini, Kementerian Kesehatan RI mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan agar tetap bugar dan terhindar dari risiko penyakit tidak menular.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kemenkes, dr Siti Nadia Tarmizi, mengatakan bahwa asupan makanan saat Idul Adha cenderung tinggi lemak dan santan. Untuk itu, masyarakat perlu mengimbanginya dengan aktivitas fisik yang cukup.
“Misalnya pas lebaran (Idul Adha) kita makannya bersantan, berlemak, jangan lupa besoknya olahraga. Jangan malah mager, harus diimbangi. Jadi kita balance-kan,” ujar dr Nadia dalam keterangannya, Jumat (31/5).
Ia menekankan bahwa kebiasaan hidup sehat dimulai dari rumah. Salah satu cara sederhana adalah dengan mengontrol penggunaan gula, garam, dan lemak saat memasak.
Selain pola makan, kesadaran untuk rutin berolahraga juga menjadi kunci utama menjaga kesehatan. Menurut dr Nadia, dampak buruk dari pola hidup tidak sehat tidak terjadi secara instan, melainkan akumulatif dalam jangka panjang.
“Penyakit tidak menular itu bukan artinya hari ini kita makan garam begitu banyak, besok kita langsung sakit. Enggak, kan. Tapi butuh proses 5–10 tahun sampai akhirnya seseorang bisa mengidap jantung, stroke, atau masalah ginjal. Itu yang paling sering,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat yang sudah memiliki riwayat tekanan darah tinggi (hipertensi) untuk lebih waspada dan menjaga kondisi agar tetap terkontrol.
“Masalah kesehatan enggak datang dalam beberapa minggu, tapi bertahun-tahun setelah kita hipertensi. Jadi kalau punya hipertensi, ya harus dijaga supaya terkontrol,” pungkas dr Nadia.
Dengan persiapan yang baik dan kesadaran menjaga pola hidup sehat, masyarakat diharapkan tetap bisa menikmati kelezatan momen Idul Adha tanpa mengorbankan kesehatan.





