Program Suplemen Ibu Hamil Belum Bisa Dipenuhi Industri Dalam Negeri

Kemenkes resmi meluncurkan program Multiple Micronutrient Supplement (MMS) di Kota Bandung, Kamis (17/10). (Foto: Dok. Pemkot Bandung)

bogortraffic,com, BANDUNG- Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin berharap kebutuhan suplemen bagi ibu hamil bisa dipenuhi industri dalam negeri. Pasalnya, dalam rangka pencegahan stunting, setiap tahunnya, bakal membutuhkan jumlah suplemen yang tak sedikit.

“Bagusnya ini produk dalam negeri ya. Ibu hamil itu 4,9 juta, butuh 180 tablet selama 6 bulan, berarti itu sekitar 900 juta tablet, lumayan,” tandasnya di sela-sela program pemberian suplemen multimikronutrien (MMS) di Bandung, Kamis, 17 Oktober 2024.

Bacaan Lainnya

Suplemen yang dibagikan itu merupakan suplemen yang berisi kandungan utama 10 vitamin plus 5 mineral sehingga diperlukan bagi ibu hamil sehingga bayi yang dilahirkan sehat. BGS menyebutnya lebih dari sekadar suplemen tambah darah.

Dalam tahap pertama, program tersebut mencakup 15 provinsi prioritas. Sebagai permulaan, pemerintah mengawalinya di Jabar yang dinilai paling banyak ibu hamilnya. Suplemen yang diberikan pun bersifat cuma-cuma. Pihaknya ingin program tersebut bisa bergulir selama lima tahun.

“Ini sudah ada risetnya, ini sudah jadi guidance WHO sejak 2020. Tapi baru diimplementasikan sekarang. Kita luncurkan di Jawa Barat yang paling banyak ibu hamilnya. Kita harapkan kalau ini sudah diluncurkan secara nasional, mulai tahun depan nantinya bisa mengurangi kelahiran bayi yang bermasalah gizi, kurangi kematian bayi,” jelasnya.

Hanya saja, untuk memenuhi harapan tersebut, BGS menyebutnya tak mudah. Pasalnya, suplemennya masih impor. Terlebih dengan jumlah kebutuhan yang relatif cukup banyak. Memang ada industri dalam negeri yang sudah menangkap peluang tersebut. Hanya saja, kiprahnya belum signifikan.

“Ini masih impor karena produsen dalam negerinya baru bikin, tahun depan sudah ada produksinya cuma belum cukup untuk memenuhi kebutuhan untuk 4,9 juta ibu hamil. Jadi sebagian masih diimpor dari Unicef,” katanya.

Karena itu, pihaknya berharap industri dalam negeri bisa berkembang dalam 2-3 tahun mendatang. Tak hanya dalam negeri, produksinya diharapkan bisa menjawab kebutuhan global sehingga industri Indonesia bisa memenuhinya.

Di tempat yang sama, Penjabat Gubernur Jabar, Bey Machmudin menegaskan bahwa sebagai provinsi dengan jumlah penduduk terbesar pihaknya serius menangani kesehatan ibu dan anak.

Program peningkatan gizi ibu hamil itu, tandasnya, penting dalam menekan tengkes (stunting) dan anemia. Peran MMS dinilai signifikan dalam mencakup kebutuhan zat besi, asam folat, dan manfaat komprehensif lainnya bagi ibu dan bayi.

“Kami akan memastikan Puskesmas dan rumah sakit mendistribusikannya secara efektif, termasuk ke daerah terpencil,” ujarnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan