Tepas Salapan Lawang, Simbol Filosofi Sunda dan Identitas Kota Bogor

Tepas Salapan Lawang Kota Bogor. (Foto: Dok.Istimewa)

bogortraffic.com, BOGORTepas Salapan Lawang bukan sekadar bangunan megah di tengah Kota Bogor. Di balik kemegahannya, bangunan ini menyimpan makna filosofis yang mendalam dan menjadi simbol kuat dari warisan budaya Sunda.

Tepas Salapan Lawang mencerminkan ungkapan bijak Sunda, “Dinu kiwari ngancik nu bihari seja ayeuna sapereun jaga”, yang berarti “Apa yang kita nikmati hari ini adalah warisan pendahulu, dan apa yang kita nikmati sekarang akan diwarisi untuk generasi berikutnya.”

Bacaan Lainnya

Bangunan ini terdiri dari sepuluh tiang kokoh dan sembilan gerbang monumental. Sepuluh tiang ini melambangkan kesepuluh bagian raga manusia, yang mengingatkan kita akan kesatuan fisik dan spiritual dalam kehidupan. Sementara sembilan gerbang pintu menggambarkan sembilan aspek kesejahteraan, yaitu kedamaian, persahabatan, keindahan, kesatuan, kesantunan, ketertiban, kenyamanan, keramahan, dan keselamatan.

Arsitektur Tepas Salapan Lawang terinspirasi dari filosofi “Silih Asih, Silih Asah, dan Silih Asuh”—prinsip kehidupan Sunda yang menekankan pada cinta kasih, saling berbagi pengetahuan, dan saling melindungi.

Lebih dari sekadar landmark estetik, Tepas Salapan Lawang berfungsi sebagai ruang publik yang terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat. Pengunjung dapat bersantai, berfoto, dan menikmati suasana sekitarnya. Tak hanya itu, Tepas Salapan Lawang juga menjadi tempat di mana masyarakat dan wisatawan dapat belajar lebih banyak tentang sejarah dan budaya Kota Bogor.

Dengan kehadiran bangunan ini, Kota Bogor semakin menegaskan identitasnya sebagai kota pusaka yang kaya akan nilai-nilai budaya dan sejarah. Tepas Salapan Lawang menjadi simbol dari upaya melestarikan warisan leluhur untuk generasi masa depan, sekaligus mengingatkan kita akan pentingnya menjaga dan merawat apa yang telah diwariskan oleh para pendahulu.

Bangunan ikonik ini diharapkan dapat memperkuat rasa bangga masyarakat Bogor terhadap akar budaya mereka, sekaligus menjadi daya tarik wisata budaya yang menarik bagi pengunjung dari luar kota.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan