Survei Pilkada Serentak: Kota Bandung dan Kabupaten Bekasi Jadi Fokus Persaingan Ketat

Paparan Survei Ragaplasma Research dan Skala Institute di 6 Kota dan Kabupaten di Jabar jelang Pilkada Serentak 2024. (Foto: Dok. Ist)

bogortraffic.com, BANDUNG- Ragaplasma Research dan Skala Institute menggelar survei di 6 kota dan kabupaten di Jabar menjelang pelaksanaan Pilkada Serentak 2024.

Hasilnya, sejumlah tren bemunculan seperti persaingan ketat di antara M Farhan-Haru Suandharu di Pilwalkot Bandung, incumbent yang justru cenderung kurang moncer di Majalengka plus pilihan yang perubahannya cukup tinggi di Kabupaten Bekasi.

Bacaan Lainnya

“Elektabilitas Farhan dan Haru antara 33,75 berbanding 29 persen, hanya saja selisih masih di rentang margin of error sehingga keduanya, meninggalkan dua calonnya lainnya, praktis yang bersaing bersaing ketat,” tandas Peneliti Skala Institute, Wahyu Ginanjar didampingi Peneliti Ragaplasma Research, Romdin Azhar saat merilis Survei Partisipasi Politik Masyarakat: Peta Elektoral Pilgub Jawa Barat & Pilkada di 6 Daerah Kabupaten Kota di Jabar” di Bandung, Kamis, 10 Oktober 2024.

Survei tersebut mencakup 6 daerah yakni Kota Bandung, Cirebon, Kabupaten Garut, Bekasi, Majalengka, dan Cianjur. Daerah-daerah ini dianggap mewakili kawasan besar di Jabar mulai dari Priangan Barat, Tengah, Timur, Pantura, dan SMS.

Menggunakan metode multistage random sampling, responden masing-masing kabupaten dan kota sebanyak 400 orang berdasarkan populasi DPT dengan margin of error plus minus 5 persen pada periode 1-7 Oktober 2024.

Di luar Farhan yang berduet dengan Erwin dan Haru-Dhani Wirianata, paslon yang meramaikan adalah duet Dandan Riza Wardana-Arif Wijaya (14,25 persen) dan Arfi Rafnialdi-Yena Iskandar Ma’soem (13,75 persen).

Di Majalengka, Karna Sobahi yang berpasangan dengan Koko Suyoko tak menunjukan kecenderungan sebagai petahana. Kondisi ini pun dinilai cukup mengejutkan kendati selisih cukup tipis. “Saya baru menemukan tren seperti ini, petahana tapi tak cukup unggul,” tandasnya.

Dalam tarung dua paslon itu, raihan Eman Suherman-Dena M Ramdhan cukup tipis 50,10 persen berbanding 39,80 persen. Dengan, pemilih yang belum menentukan sikap 10,10 persen.

Lain halnya, di Kabupaten Bekasi. Dani Ramdan, petahana sebagai bekas penjabat bupati yang berduet dengan Romli, unggul 41,75 persen atas Ade Kuswara Kunang-Asep Surya Atmaja (24,75 persen) dan BN Holik Q-Faizal Hafan Farid (19,50 persen), dengan pemilih belum menentukan pilihan sebanyak 14,00 persen.

Hanya saja, ada hal yang perlu menjadi atensi. Jumlah pemilih yang berpotensi berpaling, trennya cukup tinggi hingga 45,38 persen. Penyebabnya iming-iming seperti uang, barang, dan jasa.

“Untuk Kabupaten Bekasi, perubahan pilihan masyarakatnya cenderung akan terjadi apabila ada pemberian uang barang dan jasa, 40-an persen datanya agak aneh, mungkin ini bisa jadi perhatian bagi para penyelenggara Pemilu,” kata Romdin.

Di luar itu, dia menyebut paslon bisa menggenjot ketertinggalannya di antaranya karena faktor figur kandidat terkait dengan kunjungan kampanye, program kerja atau visi misi.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan