bogortraffic.com – Suasana penuh kehangatan dan semangat melingkupi pagelaran budaya Kampung Tugu yang sukses digelar pagi ini. Acara ini merupakan hasil kolaborasi inspiratif antara mahasiswa London School of Public Relations (LSPR) dan masyarakat Kampung Tugu, yang bersatu dalam semangat pelestarian warisan budaya di tengah hiruk pikuk kehidupan kota Jakarta.
Pagelaran ini menampilkan beragam kegiatan yang secara aktif mengangkat budaya lokal, termasuk sesi talk show interaktif. Sesi ini menghadirkan empat narasumber utama: Dr. Joe Harrianto Setiawan, M.Si. selaku Kepala Program Studi Komunikasi LSPR Institute, Rensy Jane Rusyard Michiels selaku Ketua Ikatan Keluarga Besar Tugu (IKBT), Frenky Abrahams selaku tokoh masyarakat Kampung Tugu, dan Raden Yudantyo Vito Adji sebagai Ketua Pelaksana acara.
Dr. Joe Harrianto Setiawan menekankan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata implementasi kurikulum berbasis pengabdian masyarakat di lingkungan LSPR.
Beliau menyatakan bahwa pihak kampus tidak hanya ingin mahasiswa memahami teori, namun juga terjun langsung dan berkontribusi secara konkret di tengah masyarakat.
Ia juga menambahkan bahwa pengenalan dan pelestarian nilai-nilai budaya lokal merupakan bagian penting dari pembangunan berkelanjutan dalam kerangka Sustainable Development Goals (SDGs).
“Kami ingin mahasiswa kami tak hanya belajar teori, tetapi juga membangun relasi dan memberi dampak langsung di lapangan,” ujarnya, menekankan pentingnya pengalaman praktis.
Ketua IKBT, Rensy Jane Rusyard Michiels, menyampaikan rasa terima kasihnya yang mendalam terhadap inisiatif mahasiswa LSPR.
Ia menilai bahwa kegiatan seperti ini memberi ruang kepada generasi muda untuk lebih dari sekadar menjadi pengamat budaya, tetapi juga sebagai pelaksana langsung dalam mempertahankan warisan leluhur.
Ia juga menyoroti pentingnya tradisi seperti Rabo-Rabo dan Mandi-Mandi yang dilaksanakan setiap awal tahun sebagai bentuk penghormatan sakral terhadap budaya Tugu.
“Acara adat seperti Rabo-Rabo dan Mandi-Mandi kami laksanakan setiap awal tahun sebagai bentuk penghormatan sakral terhadap tradisi,” jelasnya, menunjukkan kekayaan budaya yang diwariskan.
Sementara itu, Frenky Abrahams, selaku penasihat dan tokoh masyarakat Kampung Tugu, mengajak hadirin untuk memahami akar sejarah komunitas tersebut. Ia menceritakan bagaimana Kampung Tugu merupakan tempat bermukimnya keturunan Portugis yang dahulu dibuang oleh pemerintah kolonial Belanda ke daerah rawa-rawa di wilayah Jakarta.
Menurutnya, peninggalan budaya seperti Gereja Tugu dan lonceng tua dari Roma menjadi simbol penting dalam narasi sejarah kampung tersebut. “Dari situlah kisah kami dimulai, dengan segala suka dan dukanya,” ungkapnya, penuh makna.
Ketua Pelaksana, Raden Yudantyo Vito Adji, menjelaskan berbagai rangkaian kegiatan yang telah disiapkan. Acara dimulai sejak pra-pagelaran melalui kegiatan “Kampung Tugu Goes to School”, pelatihan pengelolaan situs web dan desain visual, hingga peluncuran buku cerita animasi dan situs web yang mengangkat informasi budaya serta mempromosikan produk UMKM lokal. Ia juga menutup acara dengan memberikan plakat penghargaan kepada para narasumber sebagai bentuk apresiasi atas dukungan mereka.
Dalam sesi tanya jawab, Kepala Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Utara menyampaikan harapannya agar kegiatan ini tidak berhenti pada satu angkatan mahasiswa saja, tetapi dapat terus berlanjut sebagai proyek berkelanjutan. Ia juga menyarankan agar situs web budaya yang diluncurkan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris untuk menjangkau audiens internasional.
Pagelaran ditutup secara simbolis dengan pemotongan pita, menandai pembukaan resmi acara sekaligus momentum kolaboratif antara akademisi dan komunitas budaya yang patut diapresiasi. Ini adalah langkah nyata dalam menjaga identitas budaya di tengah modernisasi.





