bogortraffic.com, JAKARTA- Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, mengungkapkan bahwa program makanan bergizi gratis yang diinisiasi oleh Presiden-Wakil Presiden terpilih, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, akan menyasar sekitar 82,9 juta jiwa. Program ini dirancang untuk mengatasi masalah stunting dan mencakup berbagai kelompok masyarakat, termasuk anak-anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
“Jumlah penerima program makanan bergizi gratis ini diperkirakan mencapai 82,9 juta jiwa. Untuk itu, kami berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), dalam upaya penanganan stunting dengan fokus pada intervensi gizi,” ujar Dadan dalam pernyataan resmi yang diterima dari BKKBN di Jakarta, Jumat (11/10).
Dadan menyampaikan hal tersebut dalam Simposium Nasional Kependudukan 2024 yang bertajuk “Transformasi Kebijakan Kependudukan Menuju Indonesia Emas 2045”, yang digelar secara daring di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Jawa Tengah, Rabu (9/10).
Ia menegaskan bahwa mekanisme pelaksanaan program makanan bergizi gratis terus dimatangkan, karena program ini dipandang dapat memberikan solusi terhadap permasalahan stunting. Sasaran program tidak hanya mencakup anak sekolah dari jenjang SD hingga SMA, tetapi juga ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
“Program ini menyeluruh, mencakup seluruh tahapan pertumbuhan, mulai dari ibu hamil, ibu menyusui, hingga anak-anak dari PAUD hingga SMA. Ini adalah satu rangkaian yang tidak bisa dipisahkan,” jelas Dadan.
Ia menambahkan, apabila salah satu kelompok tidak mendapat intervensi, maka hasilnya tidak akan maksimal. Oleh karena itu, kolaborasi dan intervensi harus dilakukan secara menyeluruh.
Perubahan Nama: Makanan Bergizi Gratis
Dadan juga menjelaskan perubahan nama program, dari “makan siang gratis” menjadi “makanan bergizi gratis”. Perubahan ini dilakukan setelah serangkaian uji coba di berbagai daerah. Berdasarkan hasil uji coba, diketahui bahwa anak-anak dari jenjang PAUD hingga SD kelas 2 selesai sekolah lebih awal, sekitar pukul 10.00, sehingga makanan dikirim lebih pagi.
Sementara itu, anak-anak SD kelas 3 hingga 6 yang bersekolah hingga pukul 12.00 akan menerima makanan pada pukul 09.00, dan untuk tingkat SMP-SMA, yang memiliki jam sekolah lebih panjang, makanan dikirimkan sekitar pukul 11.30.
“Dengan adanya perbedaan waktu penerimaan makanan untuk setiap jenjang sekolah, nama ‘makan siang gratis’ tidak lagi relevan. Oleh sebab itu, kami ubah menjadi ‘makanan bergizi gratis’,” tutur Dadan.
Kolaborasi untuk Indonesia Emas 2045
Pelaksana Tugas Kepala BKKBN, Sundoyo, menambahkan bahwa kolaborasi lintas lembaga sangat penting untuk menyongsong Indonesia Emas 2045. Program makanan bergizi gratis dinilai dapat mendukung pencapaian tersebut.
“Badan Gizi Nasional akan bertanggung jawab dalam intervensi gizi, sementara BKKBN berperan dalam menyediakan data dan informasi, serta bekerja sama dengan kementerian dan lembaga lainnya,” jelas Sundoyo.
Terkait dengan penanganan stunting, yang menjadi tanggung jawab BKKBN, Sundoyo menyebutkan bahwa kajian penurunan angka stunting selama tahun 2024 tengah dilakukan dan akan menjadi dasar kebijakan untuk intervensi stunting di tahun 2025.
“Kami akan merilis hasil kajian dalam tiga bulan ke depan. Hasil ini akan menunjukkan penurunan angka stunting yang akan menjadi dasar intervensi kebijakan pada tahun mendatang,” tutupnya.





