Gerakan Tanah Susulan di Purwakarta Paksa 250 Warga Mengungsi, 70 Bangunan Rusak

Dampak pergerakan tanah di Kampung Cigintung Desa Pasirmulya Kecamatan Sukatani Purwakarta Jawa Barat pada 19 Mei 2025.

bogortraffic.com — Bencana gerakan tanah susulan yang terjadi di Kampung Cigintung, Desa Pasirmulya, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Purwakarta, menyebabkan sekitar 250 jiwa warga terpaksa mengungsi ke lokasi yang lebih aman. Peristiwa ini memperparah dampak bencana yang telah berlangsung sejak April 2025.

Pranata Humas BPBD Jawa Barat, Hadi Rahmat menjelaskan bahwa BPBD Jabar dan Dinas Kesehatan bekerja sama dengan BPBD dan Dinkes Purwakarta untuk memberikan penanganan darurat kepada para pengungsi.

Bacaan Lainnya

“Pelayanan yang kami lakukan meliputi penyediaan logistik makanan lewat dapur umum, serta layanan kesehatan di titik-titik pengungsian,” ujar Hadi.

Berdasarkan laporan sementara, 70 unit bangunan terdampak, terdiri dari: 57 rumah rusak berat, 3 rumah rusak sedang, 8 rumah rusak ringan, 1 fasilitas umum rusak berat, 1 tempat ibadah rusak berat

Tak hanya merusak bangunan, gerakan tanah juga menyebabkan puluhan makam keluarga di kawasan tersebut harus dipindahkan.

Data BPBD Purwakarta mencatat, gerakan tanah aktif terjadi sejak Minggu, 20 April 2025 pukul 22.00 WIB dan berlanjut pada 23 April, 19 dan 21 Mei, serta 14 Juni. Pergerakan tanah bahkan menjalar sejauh 20 meter dari titik awal dan terus bertambah setiap 10 menit selama periode 11–14 Juni.

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Muhammad Wafid, menyebut bahwa wilayah terdampak berada di zona potensi gerakan tanah menengah hingga tinggi. Analisis berdasarkan Peta Geologi Lembar Cianjur (Sudjatmiko, 1972) mengungkap bahwa batuan penyusun kawasan tersebut berupa endapan aluvium tua dan batu pasir tufan, yang bersifat mudah jenuh dan rawan longsor.

“Faktor penyebabnya antara lain kemiringan lereng yang curam, tanah pelapukan tebal yang poros, dan curah hujan tinggi yang membuat tanah jenuh air,” terang Wafid.

Secara morfologi, daerah ini berada pada ketinggian 370 meter di atas permukaan laut dan merupakan wilayah perbukitan dengan lereng curam hingga sangat curam, sehingga sangat rentan terhadap bencana longsor maupun gerakan tanah.

Pemerintah daerah dan aparat terkait saat ini tengah melakukan pemantauan ketat serta menyiapkan langkah mitigasi lanjutan untuk mencegah kerusakan yang lebih parah. Masyarakat diminta tetap waspada dan mengikuti arahan dari pihak berwenang.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan