Wacana Transformasi Fateta IPB Jadi Sekolah Teknik Tuai Respons Tokoh Senior: Fateta Harus Tetap Jadi Pusat Ilmu Strategis

Prof. Aman Wirakartakusumah dan Prof. Florentines Gregorius Winarno foto bersama sela forum akademik di IPB International Convention Centre, Kota Bogor, Senin (9/6/2025).

bogortraffic.com, BOGOR— Wacana transformasi Fakultas Teknologi Pertanian (Fateta) IPB University menjadi Sekolah Teknik memantik beragam tanggapan dari tokoh-tokoh penting yang memiliki keterikatan historis dan emosional dengan fakultas tersebut.

Dua akademisi senior Indonesia, Prof. Aman Wirakartakusumah dan Prof. Florentinus Gregorius Winarno, menyampaikan pandangan kritis mereka terkait masa depan Fateta IPB dalam sebuah forum akademik di IPB International Convention Centre, Bogor, Senin (9/6/2025).

Bacaan Lainnya

Prof. Aman, yang kini menjabat Presiden International Union of Food Science and Technology, menyatakan bahwa Fateta selama ini telah menjadi pusat keilmuan yang tidak hanya berbasis teknik, tetapi juga lintas disiplin — mencakup ilmu alam, manajemen, hingga sosial kemasyarakatan.

“Fateta adalah hibrida dari ilmu teknik, ilmu alam, dan manajemen. Peranannya sangat vital untuk isu pangan, gizi, energi, dan lingkungan. Dalam menyongsong Indonesia Emas 2045, Fateta berperan dari hulu hingga hilir dalam sistem pangan nasional,” tegasnya.

Sementara itu, Prof. F.G. Winarno, pendiri dan dekan pertama Fateta sekaligus Presiden Codex Alimentarius Commission periode 1991–1995, menyampaikan keprihatinan sekaligus harapan terhadap arah baru yang akan ditempuh fakultas yang ia rintis sejak awal.

“Fateta dibangun bukan hanya untuk menghasilkan insinyur, tetapi untuk mencetak pemimpin pertanian global. Kita dulu bahkan mendirikan 17 STM Pembangunan Pertanian yang kini menjadi SMK. Sayangnya, ruh kolaborasi itu kini memudar,” ujar Prof. Winarno.

Ia menegaskan bahwa perubahan struktur kelembagaan tidak boleh melupakan nilai-nilai historis dan peran strategis Fateta yang telah berkontribusi besar terhadap sistem pangan Indonesia dan dunia.

“Fateta adalah almamater — tempat para insan dididik dan dibesarkan. Ia bukan sekadar struktur akademik yang bisa dirombak tanpa mempertimbangkan nilai sejarah dan fungsinya,” tambahnya.

Wacana transformasi Fateta menjadi Sekolah Teknik disebut-sebut merupakan bagian dari strategi IPB University untuk memperkuat pengelompokan keilmuan dan branding kelembagaan. Namun, sebagian pihak menilai pendekatan ini berisiko menggerus karakter khas Fateta sebagai pusat unggulan teknologi pangan dan pertanian tropika.

Menanggapi hal tersebut, Dekan Fateta IPB, Prof. Slamet Budijanto, menyatakan bahwa Fateta tetap akan dipertahankan sebagai entitas penting dalam struktur akademik IPB.

“Saya pastikan ilmunya justru diperkuat, bukan diperlemah. Itu saya pastikan. Dan kalau mau memastikan bahwa Fateta itu tetap ada, sekarang rumahnya masih ada,” ujar Prof. Slamet.

Sejumlah kalangan berharap agar transformasi ini bukan sekadar perubahan nomenklatur, melainkan langkah strategis untuk memperkuat peran dan daya saing Fateta di kancah nasional dan global. Dengan rekam jejak selama lebih dari enam dekade, Fateta telah terbukti menjadi kawah candradimuka bagi inovasi teknologi pangan dan pertanian tropis yang relevan bagi masa depan ketahanan pangan Indonesia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan