Kemarau Panjang Ancam Gagal Panen di 10 Kecamatan Penghasil Padi Kabupaten Bogor

bogortraffic.com, BOGOR- Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Bogor selama dua bulan terakhir mengancam terjadinya gagal panen di 10 kecamatan penghasil padi. Kondisi ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah setempat, mengingat dampaknya bisa signifikan terhadap pasokan beras di wilayah Jabodetabek.

Sekretaris Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Bogor, Tatang Mulyadi, mengungkapkan bahwa wilayah lumbung padi di Kabupaten Bogor berada dalam ancaman kekeringan.

Bacaan Lainnya

“Lumbung padi itu ada di wilayah Timur seperti Cariu, Tanjungsari, Sukamakmur, dan di wilayah Barat seperti Leuwisadeng, Parung Panjang, Ciampea, dan Pamijahan. Total ada 10 kecamatan yang terancam gagal panen,” ujar Tatang, Jumat (20/9/2024).

Jika gagal panen terjadi, Kabupaten Bogor diperkirakan akan mengalami penurunan produksi beras yang cukup signifikan. Penurunan pasokan ini bisa berdampak pada naiknya harga beras di pasaran, mengingat Kabupaten Bogor merupakan penyangga beras untuk wilayah Jabodetabek.

“Panen memang tidak optimal, bahkan di wilayah Sukamakmur dan Tanjungsari sudah terjadi gagal panen. Namun, petani bisa mengklaim asuransi pertanian yang disediakan melalui APBD dan APBN dari program Jasino, dengan nilai klaim sekitar Rp 6 juta per hektar,” tambahnya.

Sebagai salah satu penyumbang 35-40 persen pasokan beras di Jabodetabek, Kabupaten Bogor menjadi krusial dalam menjaga kestabilan pasokan beras. Meski begitu, Tatang menegaskan bahwa sudah ada upaya mitigasi dari pemerintah, seperti program pompanisasi dan pipanisasi untuk irigasi sawah yang kekurangan air, yang didukung oleh Kementerian Pertanian dan Pemkab Bogor.

Selain masalah irigasi, Tatang juga menyoroti pentingnya bibit padi dalam meningkatkan hasil panen.

“Tahun ini, pengadaan bibit hanya mencapai 375 kilogram untuk 2.150 kelompok. Musim panen ini sangat menentukan bagaimana kebijakan ketahanan pangan lokal di masa depan,” tutup Tatang.

Dengan situasi ini, langkah antisipatif sangat diperlukan agar ancaman kekeringan tidak berujung pada krisis pangan di wilayah Bogor dan sekitarnya

Pos terkait

Tinggalkan Balasan